[RENUNGAN] Selasa, 8 Juli 2008

Bacaan Mat 9:32-38

Peristiwa Tsunami dan gempa bumi yang melanda Aceh dan Nias beberapa tahun yang lalu telah menggerakkan banyak orang untuk berbuat baik dan peduli kepada para korban. Kebaikan dan kepedulian itu disambut dengan baik, tetapi sayang masih ada yang mengaitkan kebaikan dan kepeduliaan itu dengan isu kristenisasai.

Kebaikan yang dilakukan Yesus, yakni menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan, disambut gembira oleh orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu. Tetapi, orang Farisi yang selalu menolak Yesus dan segala karya-Nya melihat kebaikan yang dilakukan oleh Yesus sebagai buah dari kerjasama dengan penghulu setan. Sikap negatif yang ditunjukkan oleh orang Farisi menunjukkan betapa sikap kebencian dan merasa diri benar dari seseorang tidak memberi tempat pada kebaikan sesama dan bahkan kebaikan Tuhan dalam hatinya. Tetapi bagaimanakah kita harus bersikap manakala kebaikan yang kita lakukan disalah mengerti oleh orang lain?

Ketika berhadapan dengan penolakan orang Farisi, Yesus tetap memilih untuk berbuat baik dan berbelaskasih kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Yesus mengajar, mewartakan Kerajaan Allah dan melenyapkan penyakit dan kelemahan. Bagi Yesus, kebutuhan orang jauh lebih penting dari reaksi orang lain. Mengapa? Karena Yesus tidak menginginkan pujian, tetapi menginginkan manusia mengalami Kerajaan Allah dan kasih-Nya.

Setiap hari Tuhan menghendaki kita berbuat baik dan peduli dengan orang lain. Kebaikan yang kita lakukan hendaknya lahir dari belaskasih dan iman kita terhadap Tuhan, dan bukan dari keinginan untuk mendapatkan pujian. “TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI SEDIKITLAH PEKERJANYA!” KARENA ITU JADILAH RASUL CINTA KASIH (fr. Bastian-Wawan, CM)

Leave a Reply