Bacaan pertama : Yakobus 4:13-17
Beberapa waktu yang lalu terjadi gempa bumi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu korban gempa adalah sebuah keluarga yang baru saja mengadakan syukuran atas rumah yang baru saja selesai dibangun. Mereka bersyukur karena hasil kerja keras mereka selama ini telah membuah kan hasil yang nyata, yaitu rumah yang layak untuk mereka tinggali. Tetapi, tak diduga, gempa bumi menghancurkan rumah mereka. Hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun, hancur dalam hitungan detik. Ini sungguh kisah yang tragis dari salah seorang korban gempa. Siapa yang akan menduga bila begini jadinya?
Demikianlah, Rasul Yakobus juga berusaha mengingatkan kita semua. Manusia bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Maka, berkatalah, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Disinilah manusia diajak untuk merencanakan sesuatu, lalu kemudian memasrahkannya kepada Tuhan. Tidak ada hitungan matematis yang membuat segala sesutau pasti begini, pasti begitu. Seorang ibu yang terkena virus HIV, ternyata melahirkan seorang bayi yang sehat. Siapa yang menduga? Dalam bencana alam yang dahsyat, yang tidak ada kemungkinan hidup, ternyata ada saja, entah ibu atau bayi yang selamat. Sungguh luar biasa dan ajaib. Selalu ada keajaiban ditengah situasi yang tidak mungkin; disitulah Tangan Tuhan bekerja, saat kita memberi waktu dan ruang bagi Tuhan untuk turut bekerja dalam hidup kita. Tetapi, yang seringkali terjadi adalah kita tidak memberikan ruang dan waktu bagi Tuhan. Semua kita urus dan rencanakan sendiri. Kesombongan hati manusia membuat ia merasa mampu melakukan segala sesuatu secara pasti. Padahal, pikiran manusia tidak mampu menampung luasnya air lautan. Hidup manusia itu oleh Yakobus diibaratkan sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Ada banyak hal di luar dugaan kita yang bisa saja terjadi, entah sesuatu yang baik maupun sesuatu yang buruk.
Oleh karena itu, dalam setiap perencanaan dan perbuatan, sediakanlah ruang dan waktu untuk Tuhan berkarya. Ada orang bijak yang berkata, marilah kita bekerja sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya, dan segiat-giatnya, lalu… biarkanlah Tuhan yang menyelesaikan sisanya. Artinya, ada kerja sama antara usaha manusia dan rahmat Tuhan. (fr. kurniwan, cm)
Filed under: daily bible | Tagged: Hidup, kesombongan, masa depan, Rencana, sia-sia, Tuhan, uap, Yesus




