Kisah Para Rasul 20:17-27
Dua hari yang lalu, ada seorang Romo yang sedang cuti. Dia bertugas di pedalaman Kalimantan. Dia bercerita bahwa banyak guru, khususnya, pegawai negeri, di pedalaman kalimantan, lebih suka menerima gaji daripada melaksanakan tugas pengajarannya. Banyak murid yang sudah kembali ke rumah sekitar Pkl. 09.30 WIB karena tidak ada guru yang memberi pengajaran. Lantas, dalam persiapan UNAS (Ujian Nasional), Romo itu sendiri yang membantu anak-anak itu dalam persiapan menghadapi UNAS.

Berbeda dengan kebanyakan guru pegawai negeri di kalimantan pedalam kalimantan, Paulus sungguh seorang yang bertanggung jawab. Ini dapat kita simak dalam ungkapan isi hatinya dalam acara perpisahan dengan jemaat yang telah dia dampingi. Dalam kesempatan itu, dia mengajak umat mengenang kembali bagaimana dia melaksanakan tugas perutusannya sebagai rasul dengan penuh tanggung jawab, yakni tanggung jawab mewartakan kesalamatan dalam nama Kristus agar orang lain memperoleh keselamatan. Tanggung jawab itu dilakukan dengan banyak mencucurkan air mata dan mengalami banyak pencobaan dan bahkan ancaman untuk dibunuh. Semangat yang sama masih menggema dalam hati Paulus dalam menyongsong tugas barunya di Yerusalem yang akan penuh dengan penderitaan. Apa yang menarik dalam pengalaman Paulus ketika melaksanakan tanggung jawabnya?
Paulus melaksanakan tanggung jawabnya tanpa pamrih dan tanpa menghiraukan nyawanya. Dia tidak melakukan tugasnya sesuka hatinya dan sekenanya saja. Dia selalu melaksanakan tugasnya dalam bimbingan dan ketaatan kepada Roh Kudus. Lebih dari itu, dia tidak meminta orang yang telah dilayaninya untuk mengenangnya. Satu-satunya harapanya adalah mengakhiri tugas perutsannya secara tuntas agar orang lain yang dia layani memperoleh keselamatan dalam nama Yesus Kristus yang telah mengutusnya sekalipun dia harus mengalami banyak penderitaan.
Kita pun memiliki tanggung jawab dalam hidup keseharian kita, baik sebagai karyawan, orang tua atau apa saja profesi hidup kita. Apakah kita melaksanakan tanggung jawab itu dengan sepenuh hati atau hanya asal-asalan? Adakah kita memperhatikan keselamatan dan kebaikan banyak orang ataukah hanya memperhatikan diri kita sendiri manakala melaksanakan tanggung jawab keseharian kita? Adakah kita menuntut pamrih dalam tugas pelayanan kita? (fr. bastian-wawan, cm)
Filed under: daily bible





Romo,,saya hanya ingin bertanya bagaimana carannya supay bisa memiliki iman dan kepercayaan yg murni seperti seorang anak kecil.
Terima kasih sebelumnya
trims, dah kunjungi blog ini…
maaf aq blm jadi romo nich, masih frater….
Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan saudara (saudari)…mengenai cara memiliki iman dan kepercayaan yg murni seperti seorang anak kecil?
Ketika masih kecil, saya begitu yakin bahwa papa akan melindungi saya.. lantas saya tidak akan takut berhadapan dengan teman sebaya yang berusaha memukul saya. Mengapa? Karena saya sangat percaya bahwa papa yang saat itu berada di samping saya akan memberi perlindungan
Kepercayaan penuh pada perlindungan papa semata-mata lahir dari pengalaman kebersamaan dengan papa di mana dia selalu menunjukkan apa yang terbaik bagi saya.
Kepercayaan penuh kepada Tuhan hanya mungkin kita lakukan manakala sungguh mengenal dari dekat Tuhan yang kita imani. Maka pertanyaan selanjutnya, bagaimana saya mengenal Tuhan? Kita bisa mengenal Tuhan lewat membaca sabdanya… memberi waktu untuk merenungkan dan mensyukuri kebaikannya, dan masih banyak saran lain untuk mengenal Tuhan….
Kesimpulannya:
Untuk bisa memiliki iman dan kepercayaan yg murni seperti seorang anak kecil, kita perlu belajar mengenal Tuhan dari dekat dan dari hari ke sehari lewat sabda-Nya, lewat sesama, lewat alam dan lewat segala kebaikan yang telah kita alami….
Trims….
Tuhan memberkati