Kis 3:1-11; Ef 1:17-23; Mat 28:16-20

“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
“Uang simpanan saya di Bank silahkan dibagi 80% untuk keluarga: adik-
adik dan keponakan saya dan 20% diserahkan kepada Keuskupan”,
demikian salah satu isi surat wasiat terakhir dari Bapak Kardinal
Justinus Darmojuwono Pr, yang beliau katakana secara lisan dan
ditulis oleh keponakannya dan disaksikan oleh saudara-saudarinya
maupun pejabat Keuskupan sementara beliau berbaring di rumah sakit,
satu hari sebelum dipanggil Tuhan. Beliau sendiri telah
menyerahkan `surat wasiat resmi’ yang dibuat dengan tanda tangan di
atas meterai, yang isinya sangat berbeda dengan yang beliau
katakan sehari sebelum dipanggil Tuhan, meninggalkan kita semua
untuk menghadap Bapa di sorga. Apa yang beliau katakan pada hari/jam-
jam terakhir menjelang dipanggil Tuhan atau menghadap Bapa di sorga
lebih kuat dan kuasa daripada apa yang ditulis secara resmi/formal,
itulah yang akhirnya kita laksanakan. Memang pada umum kata-kata
terakhir dari orangtua, saudara-saudari kita menjelang dipanggil
Tuhan, menghadap Bapa di sorga sungguh bermakna dan menjiwai yang
ditinggalkan. Pada hari Raya Kenaikan Tuhan hari ini, sebelum naik
ke sorga, Ia berpesan kepada para murid: “Kepada-Ku telah diberikan
segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah
semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20). Semoga pesan
ini menjiwai kita semua dan hidup dan bekerja, maka marilah kita
renungkan dan hayati pesan tersebut. Ada 3(tiga) pesan: (1)
jadikanlah semua bangsa muridKu, (2) baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan (3) ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan selama kita
melaksanakan pesan tersebut “Aku menyertai kamu senantiasa sampai
akhir zaman”.
“Jadikanlah semua bangsa muridKu”
Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk
menyelamatkan seluruh bangsa di dunia serta seluruh isi dunia. Kita
semua yang menjadi murid atau pengikutNya atau percaya kepadaNya
dipanggil untuk meneruskan tugas perutusanNya: menyelamatkan seluruh
bangsa dan dunia, “Jadikanlah semua bangsa muridKu”, demikian
pesanNya kepada kita semua.
Seseorang disebut `murid baik’ pada umumnya memiliki ciri-ciri
sebagai berikut: gembira, bergairah, siap sedia menerima segala
sesuatu yang baru, terbuka, penuh harapan masa depan, mudah dibina
dan dibentuk menuju ke pribadi yang cerdas beriman , terbuka pada
Penyelenggaraan Ilahi, dst.. Kita dipanggil untuk mendampingi atau
menemani sesama kita memiliki sikap-sikap macam itu, tentu saja diri
kita sendiri memiliki ciri-ciri atau sikap-sikap tersebut di atas,
sehingga kita layak dan mampu mendampingi dan menemani saudara-
saudari kita. Menjadi murid Yesus berarti menjadi “Umat Allah yang
baru, suatu umat manusia berasal dari Yesus. Kepada `Umat Baru’ ini
seluruh umat manusia dipanggil. Ras, bangsa, dan keturunan tidak
memainkan peranan. Yang penting ialah keinsafan akan ketidakmampuan
sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah” (KWI: Iman
Katolik, buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 271)
“Keinsafan akan ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima
Kerajaan Allah”, inilah yang harus menjadi milik kita, kita hayati
serta sebarluaskan kepada sesama dan saudara-saudari kita, tanpa
pandang suku, ras, agama, bangsa dan keturunan. Hidup serta segala
sesuatu yang menyertai hidup kita adalah anugerah Allah, berasal
dari Allah dan kita terima melalui sesama dan saudara-saudari kita
yang baik dan murah hati, orang-orang yang `dirajai/dikuasai oleh
Allah’. Maka sikap hidup yang baik adalah senantiasa bersyukur dan
berterima kasih sebagai bentuk aktif dari `keinsafan akan
ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah’.
Syukur dan terima kasih menjadi cirikhas hidup seorang `murid yang
baik, sejati’.
“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”
“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus.
Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka
menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru:
Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari
oleh Bapa” (Vatikan II: SC no 6). Menjadi `penyembah sejati’ serta
membantu sesama menjadi `penyembah sejati’ itulah panggilan kita
semua
“Menyembah” yang dalam atau berasal dari bahasa
Latin `adoro/adorare’ , yang memiliki berbagai arti antara lain:
berbicara kepada, menyeru memohon-mohon, berbakti dan memberi
hormat. Maka menjadi `penyembah sejati’ berarti memiliki ciri-ciri
tersebut.:
• Berbicara kepada Tuhan maupun sesama manusia. Berbicara
kepada Tuhan berarti berdoa, maka doa merupakan cirikhas orang
beriman yang percaya kepada Tuhan atau telah dibaptis.Berbicara
kepada sesama manusia berarti bercakap-cakap, lebih-lebih bertukar
pengalaman perihal hidup beriman melalui dialog hidup, dialog
kerja/karya, dialog iman, dst..
• Didalam berdoa kepada Tuhan kiranya kita senantiasa menyeru
memohon-mohon, yaitu “meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus,
yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat
dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.Dan supaya Ia menjadikan
mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang
terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang
ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya
bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya” (Ef 1:17-
19)
• “Dibaptis” berarti juga dipanggil untuk berbakti dan memberi
hormat kepada Tuhan, senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah
Tuhan di dalam hidup sehari-hari.
“Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu”
Segala sesuatu yang telah dipertintahkan oleh Yesus kiranya dapat
diringkas atau dipadatkan dalam perintahNya untuk saling mengasihi
dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga/tubuh
serta “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya
kamu” (Mat 5:44). Sikap terhadap sesama kiranya dapat meneladan atau
menghayati kata Petrus ini: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi
apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus,
orang Nazaret itu, berjalanlah!”(Kis 3:6).
Melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan berarti mengasihi
sesama atau memberi kasih kepada sesama, bukan memberi emas atau
perak, harta benda/uang, kedudukan, pangkat atau hormat manusiawi.
Harta benda/uang, kedudukan, pangkat atau hormat manusiawi hanyalah
sarana atau perwujudan kasih, sedangkan yang utama atau pokok adalah
kasih. Maka sekiranya kita memiliki harta benda/uang, kedudukan,
pangkat, jabatan dan hormat manusiawi hendaknya difungsikan atau
dihayati dalam dan oleh kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah
hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan
diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang
lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena
kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor
13:4-7)
“Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan
diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah,
bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja
seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah
memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas
takhta-Nya yang kudus” (Mzm 47:6-9)
Rm. Maryo
dari milis Api KatolikFiled under: daily bible | Tagged: baptis, kenaikan, Kenaikan Yesus, menyertai, penyelamat, perutusan, Roh Kudus, Yesus, zaman





God Bless You frend..
ak mch bigung kpn tuhan kan dtng yg k-2 kl-na k bumi nie….kt mama loren pas tgl 2012..tp tu lum pzti jg khan bs ja melezet…
oya,ktna jg kita bkl d adili khan d surga? pengadilan-na tuw kyk mn c???
pa d introgasi ma yesus/malaikat gabriel???