• Categories

  • Foto-foto

    Foto Bersama

    candi

    More Photos
  • Archives

  • Recent Comments

    Fr. Bastian-Wawan, C… on Buku Tamu
    Ignatius on Buku Tamu
    Flo on Buku Tamu
    herlina tanaga on SERAHKAN HIDUPMU PADA-NYA
    Fr. Bastian-Wawan, C… on Buku Tamu
    Fr. Bastian-Wawan, C… on SEKSUALITAS MANUSIA: DALAM PER…
  • Blog Stats

    • 49,551 hits
  • RSS Berita Kompas

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

[RENUNGAN] Selasa, 29 April 2008

Yohanes 16:5-11

Selama satu pekan, Ibu Sinta tidak bisa menikmati hari-harinya dengan gembira. Dia tidak bisa tidur dengan tenang. Dia digelisahkan oleh keputusan anaknya untuk mencari pekerjaan di daerah lain yang jauh dari kota tempat tinggal mereka. Dia tidak setuju dengan kepusan anaknya karena kuatir akan keselamatan dan kehidupan anaknya di tempat yang sungguh belum dia kenal. “Siapa yang akan memelihara kamu nak kalau kamu sakit?” Siapa yang akan menghidangkan makanan dan minuman untukmu?”, itulah ungkapan-ungkapan yang dilontarkan oleh Ibu Santi untuk menggagalkan rencana anak kesayangannya. Tetapi anaknya tetap berpegang pada keputusannya karena sadar bahwa hidupnya kelak tidak akan tergantung lagi kepada Ibunya. Dia harus memikirkan masa depannya secara matang. Dia sudah dewasa dan tidak seperti anak-anak lagi.

Ibu Santi dalam kisah di atas begitu mencintai anaknya . Tapi sayang, dia tidak rela membiarkan anaknya jauh dari kehidupannya. Sayang, dia tidak membiarkan anaknya bertumbuh dewasa dan memikirkan masa depannya. Berbeda degan sikap Ibu Santi dalam kisah di atas, Yesus sendiri yang lebih memikirkan kedewasaan iman para murid. Untuk mendewasakan iman para murid, Yesus berbicara secara terus-terang kepada para murid-Nya bahwa Dia akan kembali kepada Bapa-Nya yang telah mengutusNya. Lantas, Dia harus meninggalkan para murid. Berpisah dengan Yesus adalah peristiwa yang sangat menyedihkan di dalam hidup para murid. Yesus tahu bahwa mereka sangat sedih. Untuk itu Yesus berkata kepada mereka: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (ayat 7). Roh Penghibur inilah yang akan memampukan para murid untuk dewasa dalam iman. Roh Penghibur inilah yang akan memimpin para murid kepada kebenaran. Roh Penghibur inilah yang akan memampukan mereka menjalani perutusan mereka sebagai rasul Kristus sekalipun akan menghadapi penganiayaan dari penguasa dunia. Keputusan Yesus untuk membiarkan para murid bertumbuh dewasa secara rohani bersama dengan Roh Kudus, Roh Penghibur dan sikap para murid melepaskan secara iklas Yesus untuk kembali kepada Bapa-Nya yang telah mengutusnya akan mendatangkan kebahagiaan dan penghiburan rohani bagi para murid.

Ada saatnya pun kita harus berani menjalani “malam gelap” di dalam hidup kita. Malam gelap yang kita lalui adalah situasi kesepian, kesendirian, kekeringan rohani dan bahkan tidak mampu merasakan kehadiran Tuhan. Jika kita terus berjalan di dalam malam gelap itu dalam sebuah keyakinan iman bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita dan akan mendatangkan Penolong bagi kita, kita akan bertumbuh dewasa di dalam iman. Kita akan mengalami sukacita dan penghiburan rohani di dalam Tuhan yang melebihi kenikmatan duniawi.(fr. bastian-wawan, cm)

Leave a Reply