[RENUNGAN] Sabtu,26 April 2008

Bacaan Injil : Yohanes 15:18-21

Saudara-saudara, pernahkah anda mengingat berapa kali anda protes kepada Tuhan saat anda menderita kesusahan? Terutama untuk kesusahan yang seharusnya tidak menimpa anda? Ada seorang teman ditabrak oleh truk, sehingga tulang hidungnya hancur. Ia harus mengeluarkan biaya operasi sekitar 15 juga untuk tahap pertama; dan ada tiga tahap, bila ingin kembali seperti semula. Siapa yang tidak marah dan protes mendapat musibah yang bukan karena kesalahannya? Tapi, inilah yang terjadi dan teman saya itu sungguh luar biasa tabah. Banyak orang yang mengunjunginya merasa marah, tapi ia hanya senyum saja.
Kisah yang lain, harus diakui juga, masih banyak saudara-saudara kita, karena minoritas, mengalami perlakuan yang tidak adil. Mereka dibenci karena menjadi katolik. Kepada mereka, hari ini Yesus memberikan penghiburan dan peneguhan, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku” Saudara, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah lebih dahulu menderita sengsara dan wafat untuk kita. Ia telah lebih dahulu menanggung hukuman atas pelanggaran yang tidak dilakukannya. Maka, sekali lagi Yesus mengingatkan kita, “seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.” Bila kita mengaku sebagai murid-murid Tuhan Yesus, pantaskah kita mengeluh atas penderitaan kita yang tidak sebanding dengan penderitaan Kristus di kayu salib? Di sinilah salib sesungguhnya menjadi sumber kekuatan bagi kita.
Salib mengajak kita untuk rendah hati dalam hidup ini. Belajar untuk menerima apapun, baik yang enak maupun yang tidak enak, dengan hati yang ikhlas dan penuh penyerahan diri. Belajar rendah hati karena ternyata penderitaan kita tidak sebanding dengan penderitaan orang lain dan juga penderitaan Yesus sendiri. St. Vinsensius berkata dalam sebuah konferensinya, “Kalau dibantah mereka menerima; kalau difitnah mereka bersabar; kalau mendapat tugas yang berlebihan, mereka mengerjakannya dengan senang hati; dan betapapun sulit apa yang diperintahkan, mereka berusaha melakukannya dengan sukarela, sambil mempercayai diri pada kekuatan ketaatan suci. Godaan-godaan yang mereka terima berguna untuk semakin meneguhkan mereka dalam kerendahan hati dan mendorong mereka untuk minta bantuan kepada Allah… sehingga mereka bisa memerangi satu musuh, yaitu kesombongan yang tanpa henti mengganggu kita sepanjang hidup ini.” Maka, mari kita belajarlah rendah hati sebab memang, seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.” (fr. kurniawan, cm)

Leave a Reply